SHARE

Perjudian merupakan sebuah industri yang besar dan legalitasnya biasanya bersifat abu-abu, alias walaupun sudah masuk ke kegiatan yang dilarang di beberapa negara tetapi tetap tidak bisa dihapuskan 100 persen.

Perjudian ikut berevolusi seiring wakut mengikuti olahraga yang ramai dikompetisikan, sehingga pada masa modern ini, perjudian mulai merambah ke ranah esports.

Pada tahun 2015 saja, perjudian memiliki nilai US$ 3 trillion (setara Rp40.000 trilyun). Itu artinya perjudian memiliki nilai melebih GDP (gross domestic product) negara India, Rusia dan Kanada). Dengan nilai sebesar itu, hanya 15 persen yang memiliki status legal dan ada regulatornya. Untuk Amerika, jumlah tersebut menurun hingga tiga persen dan merupakan industri yang digerakan oleh organisasi kriminal dan kegiatan pencucian uang.

Selain menjadi lahan para organisasi kriminal, perjudian di bidang olahraga cendrung merugikan dari sisi sportivitas dengan adanya match fixing, game throws dan nego-nego lain di bawah meja. Situasi ini ikut dialami juga oleh ranah esports yang market valuenya relatif lebih kecil dan baru terbentuk.

Pada tahun 2013 dunia esports mendapatkan sebuah glosarium baru “322” karena skandal kasus Aleksey “Solo” Berezin yang memenangkan US$322 di perjudian melawan timnya sendiri saat tim RoX melawan zRage. Sejak saat itu para pelaku match fixing dipanggil dengan sebutan 322.

Selain kasus Solo di DOTA 2, CS:GO juga sempat menghadapi skandal memalukan melalui kasus CSGOLotto yang dikelola oleh Trevor Martin alias “TmarTn” dan Thomas Cassell alias “ProSyndicate”. Kedua orang ini memiliki kanal YouTube dengan jumlah subscriber lebih dari sepuluh juta orang.

Mereka berdua banyak membuat video yang berisikan kemenangan mereka berjudi di CSGOLotto dan berhasil meyakinkan penonton mereka kalau perjudian di CSGO adalah cara cepat menjadi kaya. Masalahnya adalah, ternyata CSGOLotto adalah milik mereka dan hasil undian web tersebut bisa mereka atur sesuka hati.

Karena banyaknya skandal perjudian yang menimpa komunitasnya, Valve akhirnya melarang segala bentuk perjudian yang menggunakan OpenID API milik Steam di bulan Juli 2016. Walhasil situs-situs judi esports yang menggunakan OpenID API berguguran.

Selain semua persoalaan di atas, perjudian sebenarnya membawa sebuah dampak lain yang langsung terlihat ke permukaan. Dampak tersebut akan saya bahasa di bawah ini.

Korelasi Perjudian dengan Jumlah Penonton

Dalam sebuah studi yang terjadi di tahun 2015, Steven Salaga dan Scott Tainsky yang merupakan dosen Sport Economic di Texas A&M University, membuktikan adanya sebuah korelasi antara perjudian dengan jumlah penonton yang menyaksikan sebuah pertandingan.

Studi tersebut melibatkan data penonton yang berasal dari Nielsen. Dari hasil penelitian mereka, kita mendapatkan kalau rating sebuah pertandingan meningkat bila margin gol berada atau menyebar di akhir pertandingan. Kemudian data berikutnya menunjukkan kalau penonton akan menyaksikan pertandingan lebih lama ketika skor tidak terlalu jauh dari margin angka taruhan terbanyak.

Pada intinya, sebuah pertandingan jadi lebih menarik ketika dominasi terjadi di akhir pertandingan dan skor tidak terlalu jauh dari angka taruhan yang dipegang para pejudi.

Kondisi di atas berlaku juga untuk ranah esports. Bahkan, taruhan menawarkan kesempatan unik untuk mendorong lebih banyak penonton kasual yang ujung-ujungnya akan meningkatkan rating acara esports. Bila hal ini terjadi, maka ladang esports akan semakin dilirik oleh para sponsor yang ujung-ujungnya berbuah menjadi gaji pemain dan hadiah kompetisi yang lebih baik.

Memang ini bukan solusi bagi semua orang, tetapi dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh ranah esports, mendapatkan sebuah jump-start berupa masa atau dana sponsor merupakan sebuah keuntungan yang tak ternilai.

Regulasi adalah Kunci

Suka atau tidak walaupun telah dicegah oleh beberapa promotor event esports (Valve, EVO dan banyak lagi) perjudian di esports akan tumbuh semakin besar . Fakta ini tidak akan terpengaruh dengan perdebatan moral yang terjadi sekarang ini.

Orang suka berjudi karena beberapa alasan , dan akan tetap menjadi besar walaupun marketnya ilegal. Banyak budaya dunia yang menjadikan perjudian sebagai bagian mereka dan diwariskan melalui keturunan. Amerika masih melarang melakukan perjudian, tetapi Eropa, Australia dan berbagai negara lainnya membuat segala sesuatu yang terkait dengan perjudian menjadi mudah.

Jika kita benar-benar ingin menjaga integritas kompetitif, hal terburuk yang dapat kita lakukan adalah mengabaikan munculnya perjudian di esports dan membiarkan pasar yang tidak memiliki regulasi berkembang luas.

Kasus 322 bisa menjadi sebuah contoh bagaimana sebuah perjudian tanpa regulasi akan mempengaruhi segalnya. Seandainya lembaga yang menangani perjudian Aleksey “Solo” Berezin memiliki regulasi yang terbuka dan terintegrasi dengan Steam, pasti kejadian memalukan yang mencoreng dunia esports ini tidak akan pernah terjadi.

Sistem apa yang kita butuhkan? Sebuah sistem yang akan membuka komunikasi dan terintegrasi langsung dengan persusahaan penyedia game esposrts, kemudian lembaga penyedia fasilitas judi dan sang promotor turnamen. Bila sistem ini sudah hadir di tengah-tengah kita, pasti kasus 322 tidak akan pernah terjadi.

Judi Dalam Hukum Indonesia

Judi di hukum Indonesia diatur dalam Pasal 303 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP):

“Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana pada umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntungan belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.”

Dari ketentuan KUHP kita dapat menyimpulkan kalau bentuk-bentuk pertaruhan dilarang di Indonesia dan menutup subtitusi mata uang dalam bentuk apapun karena adanya kalimat “mendapat untung” yang artinya bisa berupa apapun (koin, mata uang digital, barang dan lain sebagainya).

Loopholes Dalam Hukum Indonesia

Walaupun sudah dilarang di dalam KUHP, perjudian tetap bisa dilakukan di Indonesia, terutama dalam bentuk digital. Kenapa bisa dilakukan? Karena dalam pasal kalimat “mendapat untung” bisa ditafsirkan dengan cara yang cukup berbeda.

Mendapat untung bisa diartikan sebagai mendapat uang atau penghasilan dalam bentuk mata uang yang diakui dalam hukum dan negara Indonesia. Berarti selama proses “mendapatkan uang” bisa dihentikan atau tidak disediakan oleh pihak penyelenggara, maka perjudian tersebut bisa dianggap tidak melawan hukum.

Kalimat bersayap inilah yang kerap digunakan para publisher game untuk merilis game-game dengan tema judi yang mereka miliki. Para publisher tersebut cukup menghilangkan fungsi cash out dari game mereka dan menggantinya dengan kemampuan untuk mengirim gift atau trade dengan pemain lain, agar terjadi RMT (real money transaction) antar pemain.

Proses RMT bukanlah tanggung jawab sang publisher dan kalau perlu mereka membuat EULA yang menyatakan kalau mereka tidak bertanggung jawab pada segala kegiatan transaksi yang dilakukan di luar sistem mereka. Voila, kalian mendapatkan sebuah sistem perjudian setengah abu-abu di Indonesia. Kenapa setengah abu-abu? Karena penegak hukum cukup menggunakan penafsiran lain terhadap kalimat “mendapat untung”.

Judi merupakan sebuah hal yang dilarang, tidak dianjurkan atau melawan tuhan (tergantung dari agama apa yang kamu peluk). Saya juga tidak berusaha meyakinkan kamu untuk pindah negara lalu kemudian berjudi. Yang ingin saya perlihatkan di sini adalah adanya korelasi antara judi dan jumlah penonton, serta salah satu “lubang” yang sering digunakan oleh orang untuk melegalkan perjudian di Indonesia.

Dengan pemikiran yang jauh ke depan, dunia esports harusnya bisa menangkap peluang ini dan menjadikannya sebuah kekuatan dengan resiko yang minim bila diatur dan memiliki regulasi yang baik.

LEAVE A REPLY