Home Movies Kong: Skull Island-Kong di Era Viet Cong

Kong: Skull Island-Kong di Era Viet Cong

414 views
0
SHARE

Bila kalian mencintai Godzilla, maka bisa dipastikan kalian bakal menyukai juga Kong. Pasalnya kera besar super kuat penghancur segalanya ini merupakan alasan utama CGI dibuat dan ditampilkan di layar IMAX.

Pertempuran manusia melawan mahluk raksasa kali ini mengambil periode setelah perang besar Amerika di Vietnam yang berakhir dengan kekalahan Amerika. Preston Packard (Samuel L. Jackson) yang merupakan veteran perang Vietnam, diminta sekelompok ilmuan untuk menjelajahi sebuah pulau kecil yang selama ini dirundung badai dan tidak pernah dijamah manusia.

Untuk melengkapi para tentara tersebut, mereka juga menyewa seorang pencari jejak yang sangat kawakan, James Conrad (Tom Hiddleston) dan fotografer anti perang Mason Waver (Brie Larson).

Bill Randa (John Goodman) yang memimpin ekspedisi ini memang tidak menceritakan maksud dan tujuan ekspedisi mereka. Yang jelas setelah tim Packard berhasil mencapai pulau di balik badai, mereka dikejutkan dengan sosok Kong yang super besar. Karena tidak mengenali siapa lawan dan siapa kawan, tim Packard langsung membuka tembakan membabi buta ke arah Kong. Karena merasa dilukai, Kong langsung menghajar para heli tersebut bak nyamuk-nyamuk kecil tanpa arti.

Setelah kehilangan seluruh skuadronnya, Packard memerintahkan anggotanya yang tersisa untuk mencari siapa saja yang selamat sekaligus mencari senjata untuk menghabisi Kong. Sementara itu Conrad dan Mason memilih untuk mencari perlindungan sambil mencari cara untuk keluar dari pulau tersebut. Pertanyaannya, siapakah yang bakal hidup?

Sebenarnya melihat para mahluk raksasa bertempur sepanjang film saja sudah lebih dari cukup untuk menggulirkan cerita Kong: Skull Island, tetapi Jordan Vogt-Roberts memilih pendekatan yang sedikit lain. Beliau ingin menyatukan sebuah pertempuran yang epik dengan sebuah saga yang memiliki benang merah dengan peradaban manusia. Hasilnya Kong: Skull Island menghadirkan alur cerita yang cukup bisa diterima oleh penonton. Terutama di bagian mengapa para monster ini harus berkelahi dan apa tujuan mereka berkelahi.

Pada intinya film ini menyajikan sebuah pertarungan epik yang ambigu, karena tidak selamanya sang pahlawan itu baik dan tidak selamanya sang penjahat itu baik. Yang jadi masalah di sini adalah, para pahlawan dan penjahat itu berbentuk monster yang bisa menaikin gedung Empire State dengan mudah. Jadi salah sedikit, pasti kalian akan mati terinjak ataupun termakan secara tidak sengaja.

Bila dibandingkan dengan film Godzilla yang hadir di tahun 2014, Kong: Skull Island ini terasa lebih matang dan hidup. Kita tidak lagi disuguhi legenda Kaiju baik vs. Kaiju jahat melalui sebuah mitos yang masih diragukan, sebaliknya di film ini kita bakal disuguhi sang raksasa muda yang bergerak dan bereaksi dengan instingnya. Jadi semuanya terasa lebih mudah diterima dan tidak dipaksakan. 

Bisa dibilang, persetan dengan legenda Kaiju. Ini adalah Kong, sang raksasa besar yang hadir demi menyelamatkan manusia secara tidak langsung. Bukan karena omongan seorang ilmuwan yang pada akhirnya harus dipercaya orang banyak.

Jangan berharap banyak pada perkembangan karakter ataupun chemistry orang-orang di dalam film ini. Semuanya berlalu begitu saja begitu Kong muncul di balik kabut. Yah, memang harus begitu, mengingat film ini bercerita mengenai Kaiju, bukan Loki yang berubah menjadi James Bond hutan ataupun Brie Larson yang berlari-lari di hutan hanya berbekal tank top.

Presentasi Kong: Skull Island sangat menggembirakan. Saking gembiranya, KlikGame sampai mengganjar film ini dengan nilai 9/10. Sebuah film yang wajib ditonton dengan sedikit peringatan bagi anak-anak di bawah umur, karena banyaknya adegan gore di dalamnya. 

Berikan Pendapat Anda

LEAVE A REPLY