Home Movies Review War for the Planet of the Apes

Review War for the Planet of the Apes

247 views
0
SHARE

Seri reboot dari Planet of the Apes telah mencapai bagian ketiganya. War for the Planet of the Apes memiliki berbagai nilai plus yang membuatnya mampu membumbung tinggi melebihi film apapun. Mulai dari emosi yang beresonansi dengan sempurna, karakter yang digambarkan dengan apik, cerita yang lengkap dan teknologi sinematografi yang memanjakan mata.

Reboot dari “Planet of the Apes”  terasa seperti sebuah keajaiban. Dimulai dari “Rise of the Planet of the Apes” di 2011, diikuti dengan “Dawn of the Planet of the Apes” di 2014 dan sekarang kita dihadapkan dengan War for the Planet of the Apes. 

Teknologi film sudah berkembang sedemikian rupa hingga mencapai tingkatan seperti sekarang ini. Dengan cerita yang beresonansi apik, kisah heroik yang sangat manusiawi dan berbagai masalah kultur modern, membuat waralaba “Apes” bersalin rupa menjadi sebuah blockbuster yang langka ditemui di pasaran. Film ini memberikan kebebasan pada sang pembuat film sehingga mereka bisa membuat cerita apa saja dan menerapkan apapun yang mereka inginkan.

Sutradara Matt Reeves dan penulis Mark Bomback kembali bergabung di “War for the Planet of the Apes,” setelah sebelumnya berkolaborasi di “Dawn” yang melambungkan nama mereka.

Walaupun berjudul War for the Planet of the Apes, film ini cenderung menceritakan pertempuran di dalam pertempuran. Rasanya seperti sebuah potongan kecil yang diperjelas sepuluh kali sehingga akhirnya mengeluarkan berbagai detil yang tersembunyi dari sebuah peperangan besar yang terjadi di atasnya.

Karena hal tersebut, War lebih banyak berkutat pada misi mata-mata, melarikan diri, lorong rahasia, adu pintar dan keberuntungan. Setiap kematian dan pengkhianatan terasa dalam dan menyedihkan. Film ini seperti menjadi sebuah wadah dari efek pisikologis sebuah perang yang berkepanjangan.

Pada inti film, kita melihat karakter Caesar yang sosoknya diambil dari Andy Serkis, seorang kera pintar yang merupakan hasil dari percobaan laboratorium. Caesar saat ini berubah menjadi pemimpin penuh empati yang terjebak di tengah-tengah keganasan perang manusia melawan kera. Caesar adalah pahlawan sesungguhnya dengan kompleksitas yang tinggi dan rasa kasih sayang melebih apapun. Walaupun masih terasa seperti karakter 2D, tapi setiap orang akan mudah mengagumi perwatakan Caesar. 

Di sini, dia diadu melawan “Kolonel,” diperankan oleh Woody Harrelson, dan jika Caesar berada di “A Man Escaped,” Harrelson ditanam dengan kuat di “Apocalypse Now,” sampai ke cat wajah hitam dan lagu Rock tahun 70-an (film ini bahkan memiliki beberapa referensi “Ape-pocalypse Now” di dinding terowongan). Dia tipe Kolonel Kurtz, pria yang telah menghabiskan waktu terlalu lama dalam pertempuran, kekerasan, paranoia dan kesedihan membusuk di otaknya.

Bomback memahami kekuatan efisiensi dalam penulisan naskah. Dengan karakter kera yang hanya memiliki ucapan yang belum sempurna, tidak perlu memberinya skenario yang bertele-telenya. Dia bekerja dengan arctype karakter “pahlawan, orang gila, tangan kanan, budak, prajurit, orang yang tidak bersalah” dan membuat mereka semua menjadi karakter yang kaya dengan sifat, sejarah, kerugian dan kemenangan mereka sendiri.

Dalam “War for the Planet of the Apes,” Reeves membiarkan si film untuk bernafas, menemukan waktu yang tepat, membangun karakter, dan membuktikan kekuatan yang bisa ditemukan dalam sebuah ketenangan. Sementara itu skor luar biasa dari Michael Giacchino memenuhi ruang emosi, penuh kesedihan, gemuruh, melonjak, berdetak.

War for the Planet of the Apes”, adalah sebuah pertunjukan, teknologi, karakter dan cerita, dengan standar yang tinggi. Ini adalah pencapaian yang luar biasa, dan tidak ada keajaiban yang bisa dibuat dalam waktu singkat, sehingga film ini kami ganjar dengan nila 9/10. Film ini akan diputar pada 26 Juli di bioskop-bioskop kesayangan kamu. Jadi tungguin tanggal mainnya kalau kalian ingin melihat kisah heroik Caesar.

 

LEAVE A REPLY