Home Movies Blade Runner 2049, Sekuel yang Ditunggu Selama 35 Tahun

Blade Runner 2049, Sekuel yang Ditunggu Selama 35 Tahun

373 views
0
SHARE

Tepat 35 tahun yang lalu, bapak Alien Ridley Scott menyutradarai sebuah film yang merupakan adaptasi bebas dari novel, Do Androids Dream of Electric Sheep? Hasil dari adaptasi tersebut tidak diterima dengan baik oleh penonton, tetapi melahirkan sebuah genre baru yang bernama neo-noir. Pada akhirnya Blade Runner menjadi sebuah film cult yang digelari oleh para kritikus sebagai film sci-fi terbaik sepanjang masa.

Di tahun 2016, Blade Runner dibuatkan sekuelnya dengan Ridley Scott duduk dibangku produser eksekutif. Sementara itu kursi yang seharusnya diduduki oleh Scott diambil alih oleh Denis Villeneuve, yang sebelumnya membawa Sicario dan Arrival ke tengah-tengah kita.

Blade Runner 2049 kembali mengajak kita ke 30 tahun setelah event yang terjadi di Blade Runner. Dunia Blade Runner sudah sangat berubah, di mana ketinggian air laut sudah melewati tanah sehingga terpaksa dibangun sebuah dam raksasa. Tidak ada lagi makanan segar, hanya ada makanan yang dibuat oleh Wallace Company. Beberapa wilayah semakin beracun dan tidak bisa ditinggali.

Officer K (Ryan Gosling) bertugas sebagai Blade Runner yang memburu para Replicants Nexus 8 yang bersembunyi dan melarikan diri. Dalam misinya, K harus berhadapan dengan Sapper Morton (Dave Bautista). Selesai dengan urusannya, K ternyata menemukan sebuah objek di dalam tanah yang ternyata membuka rahasia besar yang disembunyikan oleh para Replicants.

Sepanjang cerita Blade Runner 2049, kamu akan diajak mendalami karakter K dengan segala emosi yang dihadapinya. Pada dasarnya K adalah Nexus 9, alias Replicants buatan Wallace Company. Wallace sendiri menguasai proses pembuatan Replicants setelah membeli Tyrell Corp yang telah bangkrut paska pelarangan Replicants di 2018.

Kehidupan sang Tin Man atau K, sangat jauh dari kata sempurna, sosial atau teman. Setiap Replicants diharuskan menjalani proses penilaian traumatis yang menyebabkan mereka tidak memiliki ekspresi apapun. Kalau sampai para Replicants memiliki ekspersi ataupun jauh dari baseline standar yang mereka miliki, maka mereka harus dimusnahkan.

Tingkat kesepian sang Tin Man semakin menjadi-jadi ketika kita melihat sosok Joi yang diperankan dengan apik oleh Ana de Armas. Joi benar-benar loveable dan memiliki kompleksitas yang dibutuhkan oleh Tin Man untuk tetap waras di tengah tekanan yang menyebabkan kegilaan.

Beberapa pertanyaan Joi merupakan pertanyaan default seorang AI yang diproduksi oleh Wallace Company. Tapi semakin lama semakin kompleks seiring dengan perkembangan emosi yang dimiliki Tin Man. Dalam perjalanannya, Joi terasa lebih manusiawi dan karakternya tetap dibuat satu dimensi agar terasa seperti AI. Hal yang sama juga terjadi pada Tin Man yang memang dibuat untuk terus patuh sehingga kurang pandai berekspresi.

Bersebrangan dengan Joi dan K, Niander Wallace (Jared Letto), tampil dengan pesona yang memukau dan mengerikan. Hanya dengan kehadirannya kamu akan bisa merasakan betapa ambisiusnya sosok Wallace sehingga dia kerap melakukan hantam kromo dengan memanfaatkan para Replicants buatannya. Termasuk Luv (Sylvia Hoeks) yang merupakan representatif dirinya.

Kedua karakter yang kami sebutkan terakhir, berhasil tampil sebagai bedebah utama di dalam film. Tapi sejatinya mereka memiliki tujuan yang sangat masuk akal sehingga mereka menjadi antagonis bukan karena niatnya, melainkan caranya.

Seluruh kompleksitas dan pace yang lambat dan mengayun khas Neuveu, membuat Blade Runner 2049 sulit diterima begitu saja. Mungkin menonton Blade Runner (1982) akan membantu kamu dalam mengenali segala elemen yang disuguhkan di film ini.

Ada banyak elemen yang menyebabkan film ini menjadi kandidat Oscar, menyusul Arrival yang mendapatkan delapan nominasi dan berhasil memenangkan satu. Screenplay dan Efek menjadi beberapa di antaranya. Jadi bersiaplah untuk menyaksikan sebuah film yang sangat indah dan menempel dengan ketat ke alam bawah sadar kamu. Terutama kalau kamu menyukai genre neo-noir dan sensitif dengan berbagai emosi seperti depresi dan patah hati.

Kesimpulan akhir, film ini kami ganjar dengan nilai sempurna 10/10. Walaupun bukan untuk semua orang, tapi tidak ada salahnya kamu duduk dan menikmati dunia Blade Runner 2049 secara perlahan, sambil berusaha mengartikan segala interprestasi di dalamnya.

 

 

Berikan Pendapat Anda

LEAVE A REPLY