Home Movies Downsizing, Drama Komedi Romantis yang Dibalut dengan Sci-fi

Downsizing, Drama Komedi Romantis yang Dibalut dengan Sci-fi

2,499 views
0
SHARE

Waktu pertama kali melihat premis Downsizing, kami langsung membayangkan kalau film ini bakal menjadi komedi standar dengan formula shrunk world yang kerap muncul di tropes Hollywood. Ternyata dugaan kami salah besar, Downsizing adalah sebuah drama komedi romantis dibalut dengan elemen sci-fi yang tidak terlalu kental.

Premis utama dari Downsizing adalah, bagaimana kalau manusia menyusutkan ukuran badannya hingga hanya tersisa lima persen dari ukuran aslinya. Saat hal ini terjadi, semua kebutuhan dan limbah yang dihasilkan oleh manusia ikut menyusut juga hingga 95 persen. Karena semua menyusut, maka nilai uang akan meroket karena biaya produksi yang ikut mengecil.

Hal inilah yang menjadikan Paul (Matt Damon) dan Audrey Safranek (Kristen Wiig) memutuskan untuk ikut program penyusutan. Sayang dalam prosesnya Audrey panik dan memilih untuk melarikan diri, sementara itu Paul sudah keburu mengecil. Karena kejadian tersebut keduanya memutuskan untuk bercerai. Audrey tetap menjadi manusia normal, sementara Paul harus puas menjadi pria dengan tinggi lima inch (sekitar 12cm).

Seiring dengan waktu, Paul akhirnya memilih untuk tinggal di apartemen dan berusaha memulai hidup baru. Suatu malam, Paul dikunjung oleh tetangganya yang bernama Duvan Mirkovic (Christoph Waltz). Dari pertemuannya tersebut dia bertemu dengan Ngoc Lan Tran (Hong Chau).

Dalam perjalanan hidupnya, Paul berusaha menemukan apa artinya menjadi manusia kecil sambil terus berusaha memperbaiki kehidupannya sendiri. Sayang semuanya tidak selalu berjalan lancar, hingga akhirnya dia melakukan perjalanan ke Norwegia bersama dengan teman-teman barunya.

Downsizing lahir dari tangan Alexander Payne, orang yang berada di belakang film-film unik seperti misalnya Sideways, The Savage, Kumiko: The Treasure Hunter, hingga ke film aneh seperti I Now Pronounce You Chuck & Larry.

Sayang kemampuan screenwriter Alexander Payne kerap naik turun. Hal ini terlihat jelas pada film Downsizing yang berjalan layaknya sebuah ide liar tetapi tidak memiliki pokok masalah dan akhir yang jelas. Sebagai gantinya kita malah disuguhi masalah umum yang sampai sekarang masih jadi sorotan ahli geologi, meteorologi, para pakar kemanusian dan negara-negara dunia.

Memang tidak salah sih membuat film dengan masalah sebesar itu. Tapi yang jadi masalah adalah sudut pandangnya yang terlalu kecil dengan menempatkan pemikiran Paul dan Ngoc Lan Tran sebagai sudut pandang utama. Rasanya seperti menolong 1000 orang hanya dengan satu buah sekoci kecil dengan kapasitas 10 orang.

Hasilnya, film ini malah menjadi sebuah satir dan bahan tertawaan orang-orang yang paham dengan masalah-masalah yang disebutkan di dalam film. 

Untuk urusan menghibur, Downsizing memiliki kick dan punch yang pas banget. Kami tidak bisa membatah hal tersebut. Berulang kali kami dibuat tertawa terpingkal-pingkal dengan segala dialog yang diucapkan oleh Hong Chau, atau ekspresi jenaka dari Waltz. Sayangnya keberadaan “hiburan” ini tetap tidak menutupi kelemahan utama dari Downsizing.

Seandainya saja Alexander Payne menyerahkan urusan cerita dan screenwriter pada orang lain yang lebih paham dan mampu menyusun plot utama dengan apik, Downsizing pasti menjadi film rekomendasi kami di penghujung bulan Januari ini. Pada akhirnya kami hanya bisa mengganjar Downsizing dengan nilai 6/10. Terima kasih atas segala peringatan dan pesan moralnya.

Berikan Pendapat Anda

LEAVE A REPLY