Home Film Venom, Seperti Laba-Laba Tanpa Jaring

Venom, Seperti Laba-Laba Tanpa Jaring

3145
0
SHARE

Kelebihan utama dalam urusan mengadaptasi komik terkenal ke dalam sebuah film adalah, semua orang pasti menunggu-nunggu film tersebut. Gandakan efek tersebut bila kamu menggunakan aset komik Marvel dan tambahkan tiga kali lipat lagi bila berhubungan dengan Spider-Man.

Venom adalah sebuah film spin-off yang menyoroti sosok antihero dari dunia Spider-Man. Bila kamu mengurut cerita aslinya, maka kehadiran Venom selalu tidak lepas dengan peristiwa perjalanan ke luar angkasa, munculnya symbiote yang menempel ke Spider-Man dan seterusnya.

Urutan peristiwa itu  diubah oleh Sony demi menghadrikan sebuah film spin-off yang berdiri sendiri. Yes, film ini mengangkat Venom sang antihero tanpa adanya proses menyerap kekuatan Spider-Man dan segala tetek-bengek yang menghubungkan universe miliki Sony dengan Marvel.

Kita akan diajak berkenalan dengan Eddie Brock (Tom Hardy) dan Carlton Drake (Riz Ahmed). Eddie adalah seorang wartawan yang memiliki cara dan metode sendiri dalam mengungkapkan kejahatan. Sementara Drake adalah orang kaya yang memiliki teknologi rekayasa genetika dengan menggunakan manusia sebagai obyek percobaannya.

Hasilnya, keduanya bersitegang hingga akhirnya Brock kehilangan segalanya. Termasuk pekerjaan, pacar dan bahkan tempat tinggalnya. Melihat masa depannya yang suram Brock memutuskan untuk kembali ke kantor Life Fondation untuk menyelidiki secara langsung apa saja yang dilakukan oleh Drake.

Dibantu Dr. Dorah Skirth (Jenny Slate), Brock berhasil memasuki tempat percobaan Life Fondation. Sayang, dalam kecelakaan kecil, Brock terinfeksi oleh symbiote yang akhirnya melahirkan sosok Venom.

Menilai film Venom secara keseluruhan itu seperti menilai sebuah bangunan yang tidak utuh. Kami sangat menyukai sosok Tom Hardy yang memerankan Eddie Brock dengan baik, sayangnya hal ini tidak terjadi pada sosok Carlton Drake yang diperankan oleh Riz Ahmed.

Film superhero yang baik seharusnya memiliki musuh utama yang memorable atau minimal menantang dengan motif yang jelas. Yang kami dapati di Venom adalah, sebuah musuh yang menyebalkan dengan ambisi yang dipaksakan dan karakter yang tidak berkembang.

Sepanjang film kami dipaksa untuk mendengar berbagai dialog tolol yang dilontarkan oleh Drake. Keinginannya untuk menyembuhkan manusia dicapai dengan mengorbankan manusia. Bahkan sifat manipulatifnya terlihat sangat dibuat-buat dan terdengar tidak masuk akal.

Satu-satunya interaksi yang menarik di Venom adalah, bagaiman Eddie Brock berkomunikasi dengan Venom untuk pertama kalinya dan seterusnya. Keduanya merupakan sosok yang terasa “tough guy” dengan sisi komedinya masing-masing. Venom tidak mengetahui budaya Bumi, sedangkan Eddie Brock sangat antihero. Keduanya merupakan kombinasi yang paling menghibur di sepanjang film.

Secara garis besar Venom adalah film dengan selusin kelemahan yang sayangnya sangat dinanti-nantikan orang banyak. Tapi untunglah film ini masih cukup enak untuk ditonton, sehingga bisa mendapatkan nilai 6/10 dari kami.